Menhan AS Hegseth Klaim Blokade Pelabuhan Iran Bisa Dipertahankan Tanpa Batas Waktu, Begini Respons Militer Teheran

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan blokade laut terhadap pelabuhan Iran dapat dipertahankan tanpa batas waktu.
Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:17:01 WIB

ISTANBUL — Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa pihaknya bisa mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran selama diperlukan. Pernyataan ini disampaikan Hegseth kepada wartawan di Panama, Kamis, sebagai respons atas meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.

“Kami dapat mempertahankan blokade selama diperlukan. Tanpa batas waktu, Angkatan Laut AS dapat mempertahankan blokade seperti itu karena kami akan terus merotasi kapal masuk dan keluar kawasan,” kata Hegseth.

Klaim "Dinding Baja" Angkatan Laut AS

Hegseth mengklaim kemampuan tersebut didukung oleh kekuatan armada yang tidak dimiliki negara lain di dunia. Ia menyebut Angkatan Laut AS mampu membentuk “dinding baja” yang menurutnya tidak bisa ditembus negara manapun.

“Tidak ada negara atau angkatan laut lain di dunia yang memiliki kemampuan untuk membentuk dinding baja seperti Angkatan Laut AS, serta kemauan untuk menggunakannya seperti yang telah kami lakukan,” ujarnya.

Menurut Hegseth, Iran mengetahui bahwa mereka tidak dapat keluar atau masuk melalui wilayah yang diblokade. Ia menegaskan tidak ada batas waktu bagi penerapan blokade tersebut.

Iran: Klaim AS Hanyalah Kebohongan

Pernyataan Hegseth langsung mendapat respons keras dari militer Iran. Komando pusat militer Iran menyebut klaim AS mengenai kendali atas Selat Hormuz sebagai “kebohongan dan rekayasa yang tidak berdasar”.

“Klaim palsu AS mengenai jalur normal kapal melalui Selat Hormuz, yang mencerminkan ketidakberdayaan dan kebingungan militer negara tersebut, tidak lain hanyalah kedustaan dan kebohongan yang tidak berdasar,” demikian pernyataan komando militer yang disiarkan oleh lembaga penyiaran negara Iran, IRIB.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz dan berjanji mempertahankan blokade laut di jalur strategis tersebut.

Buntut Perundingan yang Terhenti dan Serangan Balasan

Ketegangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari gagalnya perundingan antara AS dan Iran. Kedua negara sebelumnya menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada April dan menandatangani kesepakatan pada 17 Juni untuk memulai perundingan menuju kesepakatan akhir.

Namun, perundingan tersebut terhenti akibat perbedaan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur strategis utama bagi pasokan energi dan perdagangan dunia.

Pada 8-24 Juli, AS dan Iran kembali saling serang. Washington menyerang sejumlah target di Iran, sedangkan Teheran membalas dengan menyerang sarana dan prasarana serta aset militer AS di sejumlah negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo