Breaking

Target PLTS Indonesia Melompat dari 17 GW ke 100 GW, Komisi XII DPR: Sinar Matahari Aset Terbesar Kita

RE
Selasa, 18 Agustus 2026
Target PLTS Indonesia Melompat dari 17 GW ke 100 GW, Komisi XII DPR: Sinar Matahari Aset Terbesar Kita
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menyatakan target PLTS 100 GW telah masuk dalam dokumen perencanaan kelistrikan nasional.

SULAWESI TENGAH — Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menyebut perubahan target ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ia menegaskan bahwa pengoptimalan energi surya adalah langkah strategis yang sudah melalui pertimbangan rasional dan kini resmi masuk dalam dokumen perencanaan kelistrikan nasional.

"Itu kan merupakan salah satu langkah bagaimana kita mengoptimalkan sumber daya matahari kita menjadi energi dan itu sudah dirasionalkan, sudah dimasukkan di dalam RUPTL," ujar politisi Fraksi Golkar itu dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).

Lompatan 488 Persen: Apa yang Berubah dalam RUPTL?

Dalam RUPTL sebelumnya, pengembangan PLTS hanya diproyeksikan mencapai 17 GW. Kini, angka tersebut melonjak hampir enam kali lipat menjadi 100 GW hingga 2034. Perubahan ini mencerminkan keberanian pemerintah dalam menggeser prioritas dari energi fosil menuju sumber terbarukan.

Bambang menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk terus memperluas pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). Namun, ia mengingatkan bahwa membangun PLTS tidak cukup hanya dengan menyiapkan infrastruktur fisik seperti panel surya dan gardu induk.

"Perlu dukungan regulasi agar proses transisi energi dapat berlangsung secara konsisten dan berkelanjutan," tegasnya.

Regulasi Jadi Penentu: RUU EBT dan RUU Migas Masih Digodok

Tanpa payung hukum yang kuat, target 100 GW berisiko hanya menjadi wacana. Komisi XII DPR RI bersama Badan Legislasi (Baleg) DPR RI saat ini tengah mengawal penyusunan dua regulasi penting: Rancangan Undang-Undang (RUU) Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBT) serta RUU Minyak dan Gas Bumi (Migas).

Bambang menyebut proses legislasi RUU EBT masih berjalan sesuai mekanisme yang berlaku. Ia memastikan pembahasan saat ini tengah berlangsung di Baleg.

"Saya pikir itu dikembalikan kepada mekanisme yang berlaku saja, ini kan sedang proses pembahasan. Untuk pembahasan sejauh mana RUU EBT, setahu kami itu ada dibahas di Baleg sekarang," pungkasnya.

Mengapa Target Ini Krusial bagi Masa Depan Energi Nasional?

Indonesia berada di garis khatulistiwa dengan intensitas radiasi matahari yang stabil sepanjang tahun. Namun, kontribusi PLTS dalam bauran energi nasional selama ini masih minim dibandingkan potensinya. Dengan target baru 100 GW, Indonesia menempatkan diri sejajar dengan negara-negara yang serius menggarap energi surya.

Lompatan target ini juga menjadi jawaban atas kritik internasional terhadap lambatnya transisi energi di Indonesia yang masih bergantung pada batu bara. Jika realisasi 100 GW tercapai, dampaknya akan terasa langsung pada penurunan emisi karbon dan pengurangan beban subsidi energi impor. Pertanyaannya kini, apakah regulasi dan investasi mampu mengejar ambisi besar ini sebelum 2034?

Sumber: kedaipena.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua