Kanwil Ditjenpas Sulteng Catat Produksi Hortikultura Warga Binaan Capai 27,21 Ton Selama Semester I 2026
PALU — Program ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan Sulawesi Tengah menunjukkan hasil signifikan. Sepanjang semester pertama 2026, warga binaan memproduksi puluhan ton komoditas hortikultura yang dikelola langsung melalui program pembinaan kemandirian.
Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng Herman Mulawarman mengapresiasi capaian tersebut dan mendorong jajarannya untuk terus berinovasi. "Capaian ini adalah hasil kerja keras seluruh jajaran. Mari kita semua menjaga ritme kerja, memperkuat kekompakan, serta terus menghadirkan inovasi agar kualitas pembinaan, pelayanan, dan keamanan di pemasyarakatan Sulawesi Tengah semakin baik," ujarnya di Palu, Jumat.
Jenis Komoditas dan Hasil Samping Program
Komoditas yang dihasilkan warga binaan cukup beragam, mulai dari tanaman pangan hingga sayuran. Di antaranya jagung, padi, kacang tanah, ubi, kangkung, sawi, terong, jambu kristal, selada, bayam, labu kuning, kacang panjang, pakcoy, cabai, daun singkong, pepaya, timun, dan toge.
Selain hortikultura, program ketahanan pangan ini juga menghasilkan 3,35 ton hasil pertanian, 120 kilogram produk perikanan, serta dua ekor ternak. Seluruh produk ini merupakan bagian dari pembinaan keterampilan yang bertujuan membekali warga binaan dengan kemampuan kerja nyata.
Premi Warga Binaan Capai Rp56,31 Juta
Produktivitas warga binaan tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan, tetapi juga menghasilkan penerimaan negara. Kanwil Ditjenpas Sulteng mencatat penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp22,61 juta dari kegiatan tersebut.
Sebagai bentuk penghargaan atas produktivitas, warga binaan menerima premi mencapai Rp56,31 juta. Skema ini diharapkan menjadi motivasi bagi warga binaan untuk aktif mengikuti program pembinaan kemandirian selama menjalani masa pidana.
Keterampilan Bekal Setelah Bebas
Herman menegaskan bahwa program pembinaan kemandirian ini tidak berhenti pada kegiatan produksi di dalam lapas. Keterampilan yang diperoleh warga binaan di bidang pertanian, perikanan, peternakan, dan hortikultura diharapkan menjadi bekal untuk memperoleh penghasilan setelah kembali ke tengah masyarakat.
"Jangan cepat berpuas diri, karena tantangan ke depan akan semakin besar," ujarnya. Ia berharap program ini terus dikembangkan sehingga semakin banyak warga binaan yang memperoleh pengalaman kerja yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pembinaan.