Breaking

BI Proyeksi Ekonomi Sulteng Tumbuh 6,5-8,1 Persen di 2026, Daya Beli Warga Jadi Pekerjaan Rumah di Tengah Hilirisasi Nikel

SA
Jumat, 14 Agustus 2026
BI Proyeksi Ekonomi Sulteng Tumbuh 6,5-8,1 Persen di 2026, Daya Beli Warga Jadi Pekerjaan Rumah di Tengah Hilirisasi Nikel
Gubernur Bank Indonesia menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah mencapai 6,5 hingga 8,1 persen pada 2026 dalam kegiatan di Palu.

PALU — Optimisme pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang diproyeksikan menembus angka 8,1 persen pada 2026 tidak serta-merta berbanding lurus dengan kesejahteraan di tingkat rumah tangga. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulteng mengingatkan bahwa pengendalian inflasi menjadi kunci agar efek pertumbuhan benar-benar dirasakan warga, bukan hanya tercatat sebagai angka statistik.

Sektor industri pengolahan, khususnya hilirisasi nikel, memang menjadi mesin utama ekspansi ekonomi kawasan timur Indonesia ini. Namun, denyut ekonomi yang menguat di kawasan industri belum tentu beresonansi di pasar tradisional dan dapur warga jika harga kebutuhan pokok merangkak naik.

Hilirisasi Nikel Jadi Penopang, Tapi Ada Tiga Risiko Global

Proyeksi pertumbuhan yang mentereng tersebut tidak lepas dari sejumlah tantangan struktural yang mengintai industri pengolahan. BI Sulteng mencatat setidaknya ada tiga risiko eksternal yang membayangi sektor ini: pembatasan kuota RKAB, moratorium smelter kelas 1, serta dinamika formula Harga Patokan Mineral (HPM) baru yang dipengaruhi fluktuasi harga energi global.

Ketiga faktor ini bisa mempengaruhi laju produksi dan ekspor nikel yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian provinsi tersebut. Jika produksi terganggu, efek domino terhadap pendapatan daerah dan serapan tenaga kerja bisa ikut tertekan.

El Nino dan Rantai Pasok: Ancaman Nyata bagi Sektor Pangan

Di luar sektor tambang, hajat hidup orang banyak justru bertumpu pada sektor non-tambang yang menghadapi ancaman berbeda. Pertanian, perkebunan, dan perikanan di Sulteng kini dibayang-bayangi risiko cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino yang berpotensi memicu gagal panen dan menurunkan produksi.

Potensi gangguan rantai pasok juga menjadi momok yang bisa memicu gejolak harga di tingkat konsumen. Kombinasi antara produksi yang menurun dan distribusi yang terhambat adalah resep klasik terjadinya inflasi pangan yang langsung terasa di pasar.

Angka Makro vs Realitas Mikro: Mengapa Inflasi Lebih Terasa di Dapur

Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi kerap tidak berbunyi nyaring di tingkat akar rumput. Manfaat dari ekspansi ekonomi bisa dengan mudah tergerus apabila inflasi tidak dikendalikan secara solid, terutama pada komponen bahan makanan yang volatile.

Ketika harga beras, cabai, dan minyak goreng merambat naik, maka kenaikan upah atau pendapatan yang kecil akan terasa hilang. Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, BI, dan Bulog dalam menjaga stok pangan menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda.

Peringatan BI Sulteng ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Ukuran keberhasilan pembangunan tetap pada kemampuan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah dinamika global yang serba tidak pasti.

Sumber: sultengraya.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua