AS Larang Maskapai Iran Terbang Global 23 September, China: Ilegal
NAVIGASI.CO.ID — China menolak keras keputusan Amerika Serikat yang melarang seluruh maskapai Iran beroperasi di dunia mulai 23 September. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyebut sanksi itu tidak memiliki dasar hukum internasional maupun otorisasi Dewan Keamanan PBB. Peringatan AS juga menyasar bandara, pemasok bahan bakar, hingga penjual tiket yang tetap melayani penerbangan Iran.
Pemerintah China menegaskan posisinya menentang sanksi sepihak yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap seluruh maskapai Iran. Guo Jiakun menyampaikan pernyataan itu dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (22/9), menanggapi pengumuman Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
"China secara konsisten menentang sanksi sepihak ilegal yang tidak memiliki dasar hukum internasional atau otorisasi dari Dewan Keamanan PBB," kata Guo, dikutip AFP.
Larangan Operasional Global Mulai 23 September
Bessent mengumumkan bahwa seluruh maskapai Iran tidak lagi diizinkan melayani penerbangan internasional mulai 23 September. Kebijakan itu berlaku global, bukan hanya di wilayah yurisdiksi AS.
"Pada tanggal 23 September, semua maskapai penerbangan Iran akan dihentikan operasionalnya di seluruh dunia," ujar Bessent.
Ancaman sanksi tidak berhenti di maskapai. Bandara, pemasok bahan bakar, agen penjual tiket, dan pelaku usaha lain yang mendukung operasional penerbangan Iran ikut masuk radar.
Ancaman Sanksi Sekunder bagi Pihak Ketiga
Bessent memperingatkan bahwa pihak mana pun yang tetap melayani maskapai Iran berisiko dikeluarkan dari sistem keuangan dolar AS. Sanksi sekunder ini menyasar entitas asing yang selama ini masih memberikan layanan.
"Jika mereka mendarat, Anda tak boleh menyediakan bahan bakar, tak boleh melayani pendaratan, dan tak boleh menjual tiket ke mereka; jika melanggar, Anda akan dikeluarkan dari dolar," ujar Bessent.
Langkah ini memperluas jangkauan tekanan ekonomi Washington jauh melampaui sanksi langsung ke Teheran. Negara-negara yang masih menjalin kerja sama dagang dengan Iran, termasuk China, berada di posisi sulit.
Tekanan Baru di Tengah Perang Selat Hormuz
Sanksi ini menjadi instrumen terbaru AS untuk melemahkan Iran di tengah konflik bersenjata yang masih berkobar. Kedua negara berperang sejak akhir Februari dan terus saling gempur, terutama di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sebagian besar ekspor minyak kawasan. Ketegangan di sana berdampak langsung pada harga energi global, termasuk bagi importir minyak seperti Indonesia.
Bagi China, sanksi ini menyentuh kepentingan energinya. Beijing adalah pembeli minyak Iran terbesar dan menolak tunduk pada tekanan Washington. Pernyataan Guo menegaskan China tidak akan mengikuti aturan yang dibuat tanpa mandat PBB.
Belum ada keterangan resmi soal langkah balasan China. Namun pernyataan tegas dari Kementerian Luar Negeri menandakan Beijing tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan yang menyasar mitra dagangnya.