AS-Iran Bertemu Tiga Jam di Sela Sidang PBB New York, Belum Ada Terobosan
NAVIGASI.CO.ID — Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung selama tiga jam di sela Sidang Umum PBB di New York, pertemuan pertama sejak perang meletus. Utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang disebut Presiden Donald Trump sebagai pertemuan "sangat baik" dan "sangat produktif". Namun para analis menilai kesepakatan konkret pekan ini masih jauh dari kemungkinan.
Pembicaraan tiga jam itu berlangsung di tengah rangkaian diplomasi padat yang melibatkan sejumlah pemimpin dunia. Presiden Iran Masoud Pezeshkian tiba di New York pada Rabu, menandai pertama kalinya seorang pemimpin negara yang sedang berperang dengan AS menginjakkan kaki di tanah Amerika untuk berbicara di forum PBB.
Di hari yang sama, Trump juga bertemu para pemimpin Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Pejabat senior kawasan itu tengah mengkaji proposal Qatar soal kerangka keamanan bersama yang melibatkan Iran dan negara-negara Teluk.
Perundingan di Balik Pintu Tertutup
Menurut koresponden Al Jazeera di Teheran, Tohid Asadi, pertemuan Araghchi dengan Witkoff dan Kushner bertujuan menyampaikan syarat terbaru Teheran untuk mengakhiri perang. Langkah itu menyusul runtuhnya nota kesepahaman 60 hari yang difinalisasi di Islamabad, Pakistan, pada Juni lalu.
Trump sendiri memilih nada berbeda di podium Sidang Umum PBB. Ia kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, bahkan menyebut bisa "memusnahkan" negara yang telah diperangi AS sejak 28 Februari itu.
"Saya skeptis terobosan kesepakatan bisa muncul pekan ini, tapi serangkaian kesepahaman bisa membangun kepercayaan untuk diplomasi yang diperbarui," kata Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, kepada Al Jazeera.
Mengapa Terobosan Masih Jauh
Vakil menilai momen saat ini belum matang untuk sebuah terobosan diplomatik. Menurut dia, kedua pihak telah bernegosiasi lebih dari dua tahun, dan dua kali berakhir dengan konflik militer.
Iran lama menunjuk putaran perundingan sebelumnya dengan AS pada 2025 dan tahun ini sebagai bukti Washington bisa beralih dari meja negosiasi ke aksi militer. Teheran merujuk perang 12 hari pada Juni lalu, serta konflik saat ini yang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel ke Teheran ketika Washington dan Teheran tengah berdialog lewat mediasi Oman.
Adel Abdel Ghafar, senior fellow bidang Timur Tengah di Australian Strategic Policy Institute, melihat pergerakan "genuine" menuju perundingan lanjutan, namun juga "cukup banyak posturing". Ia merujuk pujian Trump atas pembicaraan tidak langsung Selasa lalu, sekaligus pidato tajamnya di forum PBB di hari yang sama.
"Araghchi dan Pezeshkian bisa bernegosiasi, tapi kesepakatan apa pun butuh persetujuan Korps Garda Revolusi Islam dan kaum garis keras yang memegang kendali perang di dalam negeri," kata Abdel Ghafar.
Sinyal yang Perlu Dicermati
Vakil menyebut sejumlah indikator untuk melihat kemungkinan putaran kontak AS-Iran berikutnya. Menurut dia, tanda yang perlu diperhatikan adalah konfirmasi putaran perundingan baru, kesepakatan soal urutan atau langkah timbal balik, serta bahasa kedua pihak yang mulai spesifik soal implementasi, bukan sekadar mengulang tuntutan maksimalis.
Abdel Ghafar menambahkan, di tengah rangkaian Sidang Umum PBB, sinyal bisa berupa pertemuan langsung Araghchi atau Pezeshkian dengan pejabat AS. Pernyataan dukungan dari elemen garis keras pemerintahan Iran di dalam negeri juga menjadi penanda penting.
Munculnya indikator semacam itu, menurut Abdel Ghafar, bisa mendorong dorongan lebih kuat untuk perundingan saat Trump bertemu Presiden China Xi Jinping. Pertemuan itu juga berpotensi meredakan pertempuran antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan koalisi pimpinan Saudi di Yaman, yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Peran Terbatas Teluk dan China
Para analis sepakat negara-negara Teluk tetap krusial sebagai perantara kembalinya kedua pihak ke meja perundingan. Proposal Qatar soal kerangka keamanan bersama menjadi salah satu jalur yang tengah dikaji.
Sementara Xi memilih melewati New York dan langsung bertemu Trump satu lawan satu di Washington, DC. Ini menjadi kunjungan kenegaraan pertamanya ke AS dalam hampir satu dekade terakhir. Xi dijadwalkan tiba Rabu malam waktu setempat.
Sejumlah aktor dan mediator konflik tengah menguji kemungkinan jalan keluar. Namun perbedaan mendasar antara Washington dan Teheran soal program nuklir, sanksi, dan keamanan regional masih belum terselesaikan.