Pemkot Palu Kenalkan Kewirausahaan Sosial ke Generasi Muda, 1.000 Mahasiswa Dapat Bantuan Rp 5 Juta
PALU — Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah, membuka ruang dialog dan pertukaran gagasan bagi generasi muda lewat program Social Entrepreneurship and Economic Development (SEED) for Palu. Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, akademisi, mitra pembangunan, pelaku UMKM, komunitas, dan anak muda untuk membahas pengembangan kewirausahaan sosial sebagai penguat perekonomian daerah.
Wali Kota Palu Hadianto Rasyid menilai konsep kewirausahaan sosial penting dikenalkan sejak dini. Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup mengandalkan program pemerintah, tetapi juga membutuhkan inisiatif masyarakat, khususnya generasi muda.
"Social Entrepreneurship and Economic Development (SEED) ini sangat penting dan cocok sekali untuk anak-anak muda. Fokusnya hari ini adalah bagaimana mendorong anak-anak muda Kota Palu agar mampu membangun jiwa social entrepreneur dengan lebih baik," kata Hadianto di Palu, Selasa.
Social Entrepreneur Tidak Sekadar Cari Untung
Hadianto menjelaskan, seorang social entrepreneur tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi. Mereka juga dituntut mampu menghadirkan manfaat dan membantu menyelesaikan persoalan yang ada di tengah masyarakat.
Dari situ, SEED for Palu diharapkan menjadi wadah yang melahirkan berbagai gagasan, inovasi, dan model usaha berdampak sosial. Peluang ekonomi baru pun terbuka bagi anak muda yang ingin terjun ke sektor ini.
"Percepatan pembangunan tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Kita membutuhkan kolaborasi dari seluruh pihak," ujarnya.
1.000 Mahasiswa Terima Bantuan Tunai Rp 5 Juta
Selain mendorong kewirausahaan sosial, Pemkot Palu menaruh perhatian pada pengembangan sumber daya manusia. Hingga 2026, pemerintah daerah telah memberikan bantuan tunai kepada sekitar 1.000 mahasiswa dengan masing-masing sebesar Rp 5 juta.
Program tersebut disebut sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mempersiapkan generasi muda. Tujuannya agar mereka memiliki kapasitas dan kompetensi untuk mengambil peran dalam pembangunan daerah.
Keterlibatan masyarakat, komunitas, dunia usaha, akademisi, hingga kelompok sosial dinilai diperlukan untuk mendukung pembangunan Kota Palu. Kolaborasi lintas pihak menjadi kunci agar inisiatif kewirausahaan sosial tidak berhenti di ruang diskusi.