Tendik Untad Wakili Indonesia di Seminar Media Digital ASEAN di Tiongkok, Kunjungi 3 Kota Selama 20 Hari
PALU — Riska bukan satu-satunya utusan Indonesia. Tiga delegasi lain berasal dari Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Digital dan Komunikasi, serta Ombudsman Republik Indonesia. Kegiatan diselenggarakan CICG Institute of International Studies and Advanced Training yang berpusat di Beijing.
Selama kurang lebih 20 hari, peserta dari Indonesia bertemu delegasi sejumlah negara ASEAN dalam rangkaian class seminar, diskusi, dan study visit ke berbagai institusi di tiga kota.
Apa yang Dipelajari soal Konvergensi Media di Tiongkok
Di bidang media dan komunikasi, peserta mendapat gambaran bagaimana Tiongkok menjalankan transformasi media lewat konvergensi, pemanfaatan teknologi digital, dan AI agar media arus utama tetap relevan di tengah gempuran platform baru.
Riska menyebut kunjungan ke Jincheng Convergence Media Center memberi gambaran langsung praktik integrasi media tingkat daerah di sana.
"Selama kegiatan kami melakukan study visit, termasuk ke industri media di China, salah satunya di Jincheng Convergence Media Center yang merupakan pusat integrasi media tingkat daerah di Jincheng. Untuk melihat lebih dekat praktik konvergensi media oleh media Tiongkok," kata Riska.
Belajar Produksi Drama Pendek hingga Industri Kreatif Berbasis AI
Delegasi juga mengunjungi Shangdang Audio-Visual Digital-Intelligent Industrial Park di Kota Changzhi. Lokasi ini memperlihatkan pengembangan industri kreatif berbasis teknologi digital dan AI, khususnya produksi konten audiovisual, film, dan drama pendek.
Di sana Riska dan peserta lain melihat dari dekat studio produksi drama Tiongkok yang belakangan populer, sekaligus mempelajari cara rumah produksi mengintegrasikan teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam pembuatan konten.
"Di Shangdang Audio-Visual, kami berkesempatan melihat lebih dekat studio produksi drama Tiongkok yang belakangan ini semakin populer, sekaligus mempelajari bagaimana rumah produksi mengintegrasikan teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam proses pembuatan konten audiovisual. Pengalaman ini memberikan gambaran tentang bagaimana pemanfaatan teknologi digital dan AI dapat mendorong perkembangan industri kreatif sekaligus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi negara tersebut," ujar dia.
Modernisasi Tanpa Meninggalkan Warisan Budaya
Peserta juga diajak mengunjungi sejumlah situs warisan budaya yang bertahan ratusan tahun. Pengalaman lintas budaya ini memperkaya pemahaman peserta soal sejarah, nilai, dan tradisi masyarakat Tiongkok yang tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
Dari kunjungan itu, Riska menilai pembangunan pesat tidak harus mengorbankan identitas budaya dan kelestarian lingkungan.
"Dari Tiongkok, saya semakin memahami bahwa modernisasi dan pembangunan yang pesat tidak seharusnya membuat identitas budaya dan kelestarian lingkungan luntur. Tiongkok menunjukkan bahwa pembangunan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga warisan budaya dan kelestarian lingkungan," katanya.
Jejaring ASEAN dan Penguatan Kompetensi Tendik Untad
Pertemuan peserta ASEAN dengan sejumlah pemangku kepentingan di Tiongkok membuka ruang terbentuknya jejaring dan peluang kolaborasi di bidang media, komunikasi, teknologi digital, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal China-ASEAN Center Zhang Lizhong di Beijing, peserta diberi penguatan tentang pentingnya komunikasi dan pertukaran informasi untuk memperkuat hubungan Tiongkok dengan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.
Bagi Riska, program ini menjadi kesempatan meningkatkan kompetensi sekaligus membangun jejaring internasional yang memberi perspektif baru bagi tugas dan pengembangan kehumasan di lingkungan Untad.
Keikutsertaan tendik dalam seminar tersebut menegaskan upaya pengembangan kapasitas dan internasionalisasi Untad tidak hanya menyasar mahasiswa dan dosen, tetapi juga tenaga kependidikan yang berperan dalam tata kelola perguruan tinggi.